My Beloved Wife

Saya adalah orang yang sedikit susah untuk berubah. Ada beberapa hal yang terkait dengan kebiasaan saya yang susah berubah sampai sekarang. Pernah hal ini bikin jengkel istri saya yang harus mengingatkan saya bahwa sekarang ini saya sudah mempunyai seorang istri.  Tapi jangan suudzon dulu,  bukan berarti saya lupa bahwa saya sudah punya istri. Yang bikin jengkel istri saya ialah kebiasaan saya yang selalu berusaha mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Misalkan saja kalau pagi, saya sudah biasa menyiapkan sarapan sendiri. Entah itu goreng telur, nasi goreng, roti bakar, dsb. Begitu juga kalau hari libur, saya biasanya sering bikin makanan kecil sendiri, yang simpel – simpel aja seperti martabak mie or makaroni panggang. Kemudian juga kalau ada kancing baju yang copot misalnya, saya selalu berusaha memperbaikinya sendiri.

Kalau sudah begitu, biasanya istri langsung ngomel, “Mas kenapa sih ga nyuruh istri aja buat siapin sarapan or kalau pengen makan apa gitu. Kan bisa saya bikinin”. Ternyata setelah berterus terang, dia merasa tidak dibutuhkan oleh saya kalau saya menyiapkan kebutuhan saya sendiri. Saya cuma bilang bahwa saya cuma tidak mau merepotkan orang lain untuk menyiapkan kebutuhan saya. Tapi jawaban dia hanya simpel aja, “Tapi saya kan istri Mas, biarin itu semua menjadi ibadah dan pahala buat saya”. Subhanallah, kalimat itu langsung kena dalam hati saya.  Benar juga, kalau begitu secara tidak langsung saya sudah menghalangi ibadah dan pahala untuk istri saya dalam hal melayani suami.

Alhamdulillah mungkin saya termasuk beruntung bisa memiliki seorang istri yang tahu hak-hak serta kewajibannya dalam keluarga. Walau dia bekerja juga di luar rumah (istri saya adalah seorang dosen di salah satu Akademi Bidan di Bogor), tetapi dia tidak melupakan kewajibannya dalam mengurus keluarga. Kalau saya pulang kerja, dia sudah siap dengan minuman dan makanan kecil untuk saya. Handuk untuk mandi dan baju ganti pun sudah disiapkan.

Sekarang saya harus bisa membiasakan diri saya dilayani oleh istri saya, tetapi tentu saja bukan berarti saya jadi keenakan, kadang masih ada juga rasa risih dan kagok dari yang biasanya saya melayani semua sendiri, sekarang menjadi dilayani oleh istri. Tapi mudah-mudahan ini smeua bisa menjadi ibadah dan pahala buat istri saya.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

3 Komentar pada “My Beloved Wife”

  1. Donny Reza Says:

    Mas, mau saya masakin mie goreng campur aspal? :p

  2. rifqie Says:

    sweet story =)

    iya, kadang-kadang melayani itu menjadi sebuah kehormatan untuk wanita =)

  3. yusufbh Says:

    dulu waktu smu bukannya ente “melayani” mas donny jg? hihihihi…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: