Sudah rapatkah shaf kita?


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Ketika kita sedang akan memulai shalat berjamaah, pernahkah kita perhatikan imam selalu menyuruh para makmum untuk merapikan dan merapatkan barisan? “Rapat dan luruskan shaf, sesungguhnya rapat dan lurusnya shaf termasuk ke dalam kesempurnaan shalat.” Perintah tersebut merupakan sabda dari Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Anas radhiallahu ’anhu. Selain itu ada pula hadits lain yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma, Rosululloh shulallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Rapikanlah shof, sejajarkan antara bahu, penuhi yang masih kosong(masih longgar), bersikap lunaklah terhadap saudara kalian dan janganlah kalian biarkan kelonggaran untuk setan. Barang siapa yang menyambung shof, Alloh akan menyambungnya dan barang siapa yang memutus shof Alloh akan memutusnya.” (HR. Abu Dawud no. 666). Dalam beberapa riwayat juga diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khatab sangat memberikan perhatian sekali pada masalah rapat dan lurusnya shaf ketika shalat berjamaah.

Akan tetapi pada kenyataannya merapikan dan meluruskan shaf itu sangat susah sekali. Entah itu hanya di Indonesia saja yang ngakunya berpenduduk muslim terbanyak di dunia, ataukah memang di negara lain pun demikian saya tidak tahu. Yang jelas setiap kali melakukan shalat berjamaah di mesjid saya melihat banyak sekali jamaah yang tidak merapatkan shafnya satu sama lain. Begitu juga ketika saya merapatkan shaf dengan cara menempelkan ujung jari kaki ke jamaah sebelah kanan kiri saya, biasanya mereka langsung menjauhkan kakinya agar tidak menempel dengan jari kaki saya. Begitu saya tempelkan lagi, pasti langsung dijauhkan lagi.

Padahal seperti disebutkan pada hadits di atas, bahwa kelonggaran shaf kita akan diisi oleh setan. Maka tak heran dengan longgarnya shaf kita ketika shalat, setan akan mengisi kelonggaran itu, kemudian sepanjang shalat makhluk terkutuk itu akan menggoda kekhusyukan kita ketika shalat. Sehingga pada akhirnya shalat yang kita lakukan tidak dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.

Berikut ada sebuah cerita menarik bagaimana iblis menyusup kedalam shaf shalat berjamaah.

Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid.

Kebetulan hari itu Jum’at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia

tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan

bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat

lubang pembuangan air.

Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam

urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga

menempel di setiap sajadah.

“Hai, Blis!”, panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu.

Iblis merasa terusik : “Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang

saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!”, jawab Iblis

ketus.

“Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci, kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar

nanti!”, Kiai mencoba mengusir.

“Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru”. Kiai tercenung.

“Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu”.

“Dengan apa?”

“Dengan sajadah!”

“Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?”

“Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan

saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh

untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!”

“Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?”

“Bukan itu saja Kiai…”

“Lalu?”

“Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan

gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar”

“Untuk apa?”

“Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang

Kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat.

Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam

kerenganggan itu. Di situ saya bisa ikut membentangkan sajadah”.

Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus.

Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan.

Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih

kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya,

tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak

enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa

berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga

sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya.

Keduanya masih melakukan sholat sunnah.

“Nah, lihat itu Kiai!”, Iblis memulai dialog lagi.

“Yang mana?”

“Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda

ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka”. Iblis lenyap. Ia sudah

masuk ke dalam barisan shaf. Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang

melakukan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis

sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun

dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas

sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia

kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa.

Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar.

Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadiankejadian

itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di

atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan

atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya

diatas sajadah yang kecil.

Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas. Pemilik sajadah lebar,

diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari

pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan

selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.

Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.

“Astaghfirullahal adziiiim “, ujar sang Kiai pelan.

Maka tidak heran pula jika pada akhirnya umat muslim khususnya di Indonesia tidak dapat bersatu merapatkan barisan. Umat muslim sekarang dengan mudah dapat diadu domba, sesama umat muslim saling menjatuhkan. Bagaimana dapat merapatkan barisan, jika shalat saja kita tidak pernah mau merapatkan shaf kita? Kita lebih senang jika ketika shalat di sebelah kita diisi oleh setan dibandingkan oleh saudara kita sesama muslim.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

2 Komentar pada “Sudah rapatkah shaf kita?”

  1. rifqie Says:

    subhanallah..kisahnya mengena sekali.

    duluuuu….saya pernah menjadi salah satu pemilik sajadah egois yang ingin menguasai sajadah yang saya pakai sendiri kalau ke masjid. Alhamdulillah, sekarang tidak lagi setelah tahu meluruskan dan merapatkan shaff adalah salah satu kesempurnaan shalat. Sekarang, alih-alih “egois”, ingin menguasai sajadah sendiri, saya memilih sajadah saya tertumpuk sajadah lain atau tidak usah bawa sajadah sekalian ke masjid😀

    pernahkah Anda shalat dzuhur di masjid Salman ITB? alhamdulillah, disana para imam selalu mengingatkan makmumnya untuk meluruskan dan merapatkan shaff. Dulu, saat masih menjadi penghuni asrama putri salman, saya dan rekan-rekan cukup kesulitan mengajak jamaah untuk meluruskan dan merapatkan shaff.

    Mungkin karena belum banyak orang yang tahu tentang hadits di atas. Dulu, sempat terpikir oleh kami untuk membuat suatu video atau kartun interaktif yang membantu jamaah mengerti mengenai pembentukan shaff dalam shalat. Tapi belum terlaksana sampai sekarang..

    Keep on writing🙂

  2. fauzan Says:

    saya ada 2 gambar cara menyusun shof sholat berjamaah yang sesuai Sunnah Nabi SAW
    bisa di lihat di :

    1. http://www.friendster.com/photos/84262494/1/932493711
    2. http://www.friendster.com/photos/84262494/1/300979820

    semoga bermanfaat, jazakallah khoir
    atau email ke : shof_sholat@yahoo.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: