Islamic Widget

Ditulis Mei 29, 2009 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized

Pengertian, Kesetiaan dan Kepercayaan

Ditulis Mei 1, 2009 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized

Malam tadi saya pulang larut lagi. Saya membuka pintu dan memberi salam. Terdengar jawaban salam yang pelan namun begitu indah didengar. Pemilik suara indah itu yang tidak lain adalah istri saya sendiri. Ia kemudian tersenyum dan bertanya, “Mas sudah makan?” “Alhamdulillah sudah tadi” Jawab saya. Wajahnya nampak menahan kantuk karena setia menunggu saya pulang larut lagi malam ini.

Sudah beberapa bulan ini pemilik suara indah itu setia menunggu saya pulang kerja selarut apapun. Tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab terhadap pekerjaan itu sendiriah yang membuat saya mau tidak mau harus sering bekerja sampai larut, bukan karena mengejar materi (karena memang tidak ada materi yang bisa dikejar :p).

Alhamdulillah pengertian, kesetiaan dan  kepercayaan istri saya membuat saya semangat kembali setelah penat seharian bekerja sampai larut. Dengan pengertian itu pulalah ia tidak pernah menunjukkan muka masam dan selalu tersenyum, meskipun saya tahu di dalam hatinya ia sebenarnya kesal juga dengan tuntutan pekerjaan saya yang begitu banyak. Dengan kesetiaannya, ia selalu berdoa dan menunggu saya pulang selarut apapun, meski saya tahu ia sendiri pun sudah cukup lelah juga setelah bekerja seharian di kantornya. Dan dengan kepercayaannya, ia percaya dan tidak penuh dengan kecurigaan dengan bertanya macam-macam. Cukup satu pertanyaan, “Bagaimana pekerjaannya? Sudah bereskah?”.

Dengan tiga hal itulah istri saya memberikan dukungan yang begitu besar kepada saya. Dengan dukungan yang sebesar itu pulalah saya harus dapat membahagiakan istri dan anak saya kelak, walaupun tanda – tanda kedatangan si buah hati belum hadir di tengah – tengah kami. Kebahagiaan dalam arti kata bukan berlimpah materi, tetapi berhasil membangun keluarga yang kokoh dan sejahtera, amin.

Alhamdulillah, malam ini sepertinya saya bisa pulang normal dan tidak larut. Oleh-oleh makanan kecil kesukaannya, mudah-mudahan bisa membuat ia tersenyum lebih lebar lagi, amin.

Bogor Macet Bangeeet….

Ditulis Maret 16, 2009 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized

Membicarakan masalah macet sepertinya ga pernah ada habisnya. Bogor, kota yang dulunya nyaman tanpa kemacetan yg berarti, sekarang sudah berubah total. Hampir setiap sudut kota Bogor mengalami kemacetan di tiap ruas jalannya. Penyebab kemacetan bisa bermacam-macam. Dari angkot yang ngetem sembarangan, jalan yang kecil dan rusak, sampai karena ketidak disiplinan dari para pengguna jalan itu sendiri.

Setiap hari saya berangkat ke kantor menggunakan sepeda motor. Dari rumah saya di Villa Bogor Indah II menuju kantor di Gedung Setyajaya di Jl. Pajajaran, biasanya saya melewati rute Jl. Pemda –> Jl. Kedung Halang (Talang) –> Warung Jambu, kemudian dari perempatan Warung Jambu saya lebih senang masuk ke jalan Outer Ring yang baru selesai pembangunannya daripada terus melewati Jl. Pajajaran, dan nanti keluar di Jl. Bina Marga.

Sepanjang jalan dari rumah menuju kantor, kemacetan paling parah biasanya terjadi di pertigaan keluar Jl. Pemda menuju Kedung Halang Talang. Pertigaan ini setiap pagi selalu macet panjang, kemacetan ini disebabkan selain tidak adanya lampu merah, juga karena jalan di Kedung Halang tepat di bawah Talang, rusak parah. Ruas jalan yang seharusnya bisa 4 Jalur, hanya bisa dipakai normal 2 jalur. Memang di pertigaan tadi, setiap pagi selalu dijaga oleh petugas Polantas. Akan tetapi tanpa mengurangi penghargaan saya kepada para petugas yang telah mengatur lalu lintas, menurut saya hal itu tidak cukup efektif. Sebenarnya jika saja ruas jalan yang rusak itu segera diperbaiki, kemacetan tidak akan parah seperti itu.

Setelah melewati kemacetan di Talang, biasanya kemacetan kembali menghadang di ruas jalan setelah pertigaan keluar Jalan Baru menuju ke arah warung jambu,  hal ini pun disebabkan karena ruas jalan sudah rusak parah dan tidak layak untuk dilalui. Jika hujan sudah turun, jalan yang menuju ke arah pertigaan Jalan Baru dari Warung Jambu sudah seperti sungai kecil. Air menggenang dimana-mana.

Yah, saya sebagai orang kecil yang awam, saya hanya bisa berharap pemkot Bogor mau memperhatikan masalah kemacetan yang sudah menjalar di setiap sudut kota Bogor, dan juga memperhatikan kondisi jalan yang ada, karena dengan banyaknya jalan yang rusak, tentu saja akan membahayakan para pengguna jalan.  Atau mereka mungkin sudah terlalu menikmati kedudukan mereka sehingga lupa dengan rakyatnya? Ah suudzon aja…ga boleh tau…

Azab kubur karena buang air kecil

Ditulis Maret 6, 2009 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized

Benarkah buang air kecil bisa menyebabkan kita mendapat siksa/azab kubur?

Islam datang dengan membawa peraturan yang semuanya demi kemaslahatan umat manusia. Diantaranya soal menghilangkan najis, Islam mensyari’atkan agar umatnya melakukan istinja’ (cebok dengan air).

Sebagian orang menganggap enteng masalah menghilangkan najis. Akibatnya badan dan bajunya masih kotor. Dengan begitu, shalatnya menjadi tidak sah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa perbuatan tersebut salah satu sebab dari azab kubur.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Suatu kali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati salah satu kebun di Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar suara dua orang yang sedang di siksa di alam kuburnya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda” :

“Keduanya diazab, tetapi tidak karena masalah besar (dalam anggapan keduanya) lalu bersabda – benar (dalam riwayat lain : Sesungguhnya ia masalah besar) salah satunya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya dan yang satu lagi suka mengadu domba”. (Hadits Riwayat Bukhari)

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan :

“Kebanyakan azab kubur disebabkan oleh buang air kecil”. (Hadits Riwayat Ahmad, Shahihul Jami’ No. 1213)

Termasuk tidak cebok setelah buang air kecil adalah orang yang menyudahi hajatnya dengan tergesa-gesa sebelum kencingnya habis, atau sengaja kencing dengan posisi tertentu atau di suatu tempat yang menjadikan percikan air kencing itu mengenainya, atau sengaja meninggalkan istinja’ dan tidak teliti dalam melakukannya.

Saat ini, banyak umat Islam yang menyerupai orang-orang kafir dalam masalah kencing. Beberapa kamar kecil hanya dilengkapi dengan bejana air kencing permanen yang menempel di tembok dalam ruangan terbuka. Setiap yang kencing, dengan tanpa malu berdiri dengan disaksikan orang yang lalu lalang keluar kamar mandi. Selesai kencing ia mengangkat pakaiannya dan mengenakannya dalam keadaan najis.

Orang tersebut telah melakukan dua perkara yang diharamkan, pertama ia tidak menjaga auratnya dari penglihatan manusia dan kedua, ia tidak cebok dan membersihkan diri dari kencingnya.

Jadi sudah jelas sekarang, ketika melakukan buang air kecil kita harus berhati-hati jangan sampai lupa membersihkan diri dan jangan anggap enteng tentang masalah menghilangkan najis ini. Walau kecil akan tetapi bisa menjadi besar dampaknya.

Dukun, Tukang Ramal dan Sejenisnya

Ditulis Maret 6, 2009 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, meriwayatkan dari salah seorang isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara dan dia mempercayainya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.”

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa mendatangi seorang dukun dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Dan diriwayatkan oleh keempat periwayat (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah) dan Al-Hakim dengan menyatakan: “Hadits ini shahih menurut kriteria Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Abu Ya’la pun meriwayatkan hadits mauquf dari Ibnu Mas’ud seperti tersebut di atas, dengan sanad jayyid.

Al-Bazzar dengan isnad jayyid meriwayatkan hadits marfu’ dari Imran bin Hushain:

“Tidak termasuk golongan kami orang yang melakukan atau meminta tathayyur, meramal atau meminta diramalkan, menyihir atau minta disihirkan; dan barangsiapa mendatangi tukang ramal lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Ausath dengan isnad hasan dari Ibnu ‘Abbas tanpa menyebutkan kalimat: “Dan barangsiapa mendatangi …;” dan seterusnya.

Al-Baghawi (Abu Muhammad: Al-Husein bin Mas’ud bin Muhammad Al-Farra’; atau Ibn Al-Farra’ Al-Baghawi. Digelari Muhyis-Sunnah, kitab-kitab yang disusunnya a.l.: Syarh As-Sunnah, Al-Jami’ baina Ash-Shahihain. Lahir th. 436H (1044 M) dan meninggal th. 510 H (1117 M) berkata:

Al-‘Arraf (orang pintar) ialah orang yang mengaku tahu dengan menggunakan isyarat-isyarat untuk menunjukkan barang curian atau tempat barang hilang atau semacamnya. Ada pula yang mengatakan: Dia adalah kahin (dukun), padahal kahin adalah orang yang memberitahukan tentang perkara-perkara yang akan terjadi di masa mendatang. Adapula yang mengatakan: Yaitu orang yang memberitahu apa yang tersimpan dalam hati seseorang.”

Menurut Abu Al-‘Abbas Ibnu Taimiyah: “Al-‘Arraf adalah sebutan untuk tukang ramal, tukang nujum, peramal nasib dan yang sebangsanya, yang menyatakan tahu tentang perkara-perkara (yang tidak diketahui oleh orang lain) dengan cara-cara tersebut.”

Ibnu ‘Abbas, terhadap orang-orang yang menulis huruf-huruf: “abaajaad” untuk mencari pelamat rahasia huruf dan memperhatikan bintang-bintang (untuk ramalan), mengatakan:

“Aku tak tahu bahwa orang yang mempraktekkan hal itu akan memperoleh suatu bagian keuntungan di hadapan Allah.”

Dikutip dari buku : Kitab Tauhid karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Penerbit : Kantor Kerjasama Dakwah dan Bimbingan Islam Riyadh, 1418 H

Rokok Haram?

Ditulis Februari 16, 2009 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized

Sebagian orang tidak bisa menerima pengharaman rokok, meski dalil – dalil yang menunjukkan keharaman rokok itu banyak sekali.  Dan sebagian orang juga beralasan bahwa merokok itu makruh saja, akan tetapi jika memang makruh, lalu kenapa masih dilakukan? Bukankah makruh itu lebih dekat kepada haram daripada halal?

Rokok memang sesuatu yang tidak ada pada zaman Rasulullaahi Shalallaahu Alaihi Wassalam. Akan tetapi Islam telah menurunkan nash – nash yang universal, semua hal yang membahayakan diri, mencelakakan orang lain, menghambur-hamburkan harta adalah hal yang haram.

Berikut ini merupakan dalil-dalil yang menunjukkan pemgharaman rokok.

1. Firman Allah:

“Nabi tersebut menghalalkan untuk mereka semua hal yang baik dan mengharamkan untuk mereka semua hal yang jelek.” (QS. Al A’raf: rn157)

Bukankah rokok termasuk barang yang jelek, berbahaya dan berbau tidak enak?

2. Firman Allah:

“Janganlah kalian campakkan diri kalian dalam kehancuran” (QS. Al Baqarah: 195)

Padahal rokok bisa menyebabkan orang terkena berbagai penyakit berbahaya seperti kanker dan TBC.

3. Firman Allah:

“Dan janganlah kalian melakukan perbuatan bunuh diri” (QS. An Nisa: 29)

Padahal merokok merupakan usaha untuk membunuh diri secara pelan-pelan.

4. Ketika menjelaskan tentang khamr dan judi, Allah berfirman:

“Dan dosa keduanya (khamr dan judi) lebih besar daripada manfaat dua hal tersebut.” (QS. Al Baqarah: 219)

Demikian pula dengan rokok, bahaya yang ditimbulkannya lebih besar daripada manfaatnya, bahkan rokok sedikitpun tidak mengandung manfaat.

5. Firman Allah:

“Dan janganlah engkau bersikap boros, sesungguhnya orang yang suka memboroskan hartanya merupakan saudara-saudara setan.” (QS. Al rnIsra:26-27)

Telah jelas bahwa merokok merupakan perbuatan perbuatan boros dan menghambur-hamburkan harta benda.

6. Allah berfirman tentang makanan penduduk neraka:

“Tidak ada makanan mereka kecuali dari pohon yang berduri. Makanan tersebut tidak menyebabkan gemuk dan tidak pula bisa menghilangkan rasa lapar.” (QS. Al Ghasiyah:6-7)

Demikian pula dengan rokok, tidak membuat gemuk dan menghilangkan rasa lapar, sehingga rokok itu menyerupai makanan penduduk neraka.

7. Sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Ahmad, shahih)

Padahal rokok itu dapat membahayakan diri sendiri ataupun orang lain serta menyia-nyiakan harta.

8. Sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya Allah itu membenci tiga perkara untuk kalian, (yakni) berita yang tidak jelas, menghambur-hamburkan harta dan banyak bertanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Padahal merokok termasuk membuang harta.

9. Sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam:

”Setiap (dosa) umatku dimaafkan (akan diampunkan) kecuali orang yang terang-terangan berbuat dosa.” (HR. Bukhari dan rnMuslim).

Artinya setiap umat Islam itu akan memperoleh pengampunan kecuali orang yang berbuat dosa dengan terang-terangan, sebagaimana para perokok yang merokok tanpa rasa malu-malu, bahkan mengajak orang lain untuk berbuat kemungkaran seperti mereka.

10. Sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka janganlah ia mengganggu tetangganya.” (HR. Bukhari)

Bau tidak sedap karena merokok sangat mengganggu istri, anak dan tetangga terutama malaikat dan orang-orang yang shalat di masjid.

11. Sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidaklah dua telapak kaki seorang hamba bias bergeser pada hari kiamat sebelum ditanya mengenai empat perkara, (yakni) tentang kemana ia habiskan umurnya; untuk apa ia gunakan ilmunya; dari mana ia memperoleh harta dan kemana ia belanjakan; untuk apa ia pergunakan tubuhnya.” (HR. Tirmidzi, rndishahihkan oleh Al Albani dalam kitab Shahih Al Jami dan Kitab Silsilah rnShahihan)

Padahal seorang perokok membelanjakan hartanya untuk membeli rokok yang haram. Benda yang sangat berbahaya bagi tubuh dan mengganggu orang lain yang berada di dekatnya.

12. Sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Barang yang dalam jumlah besarnya dapat memabukkan, maka statusnya tetap haram meski dalam jumlah sedikit.” (HR. Ahmad dan rnlain-lain, shahih)

Padahal asap rokok dalam jumlah banyak dapat memabukkan, terutama untuk orang yang tidak terbiasa merokok; atau pada saat perokokmenghisap asap dalam jumlah yang banyak maka orang tersebut akan sedikit mabuk. Hal ini telah ditegaskan oleh seorang dokter dari Jerman dan seorang perokok yang pernah mencoba, sebagaimana penjelasan di atas.

13. Sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa makan bawang merah atau bawang putih maka hendaklah menjauhi kami, masjid kami dan hendaklah ia berdiam saja di rumahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wudhu dan Hemat Air…

Ditulis Februari 16, 2009 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized

Sebagai umat muslim, kita wajib melaksanakan shalat fardhu 5 kali sehari semalam, ditambah juga dengan shalat-shalat sunat lainnya. Dan sebelum melakukan shalat, kita terlebih dahulu bersuci dengan menggunakan air atau biasa kita sebut berwudhu.

Wudhu adalah menggunakan air yang suci dan mensucikan dengan cara yang khusus di empat anggota badan yaitu, wajah, kedua tangan, kepala, dan kedua kaki. Adapun sebab yang mewajibkan wudhu adalah hadats, yaitu apa saja yang mewajibkan wudhu atau mandi [terbagi menjadi dua macam, (Hadats Besar) yaitu segala yang mewajibkan mandi dan (Hadats Kecil) yaitu semua yang mewajibkan wudhu. Adapun dalil wajibnya wudhu adalah firman Allah,
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,” (Q.S. Al-Maidah:6)

Wudhu dilaksanakan sebelum seseorang memulai shalat. Rata -rata kita berwudhu menggunakan air , sebagian kecil mungkin bertayamum ketika air tidak bisa didapatkan. Akan tetapi sungguh sayang, dalam melakukan wudhu ini kita masih saja banyak terjerumus dalam suatu perbuatan boros dan berlebih-lebihan. Yang saya maksudkan dalam berlebih-lebihan ini ialah dalam hal pemakaian air untuk berwudhu.

Dalam kitab Al-As’ilah wa Ajwibah Al-Fiqhiyyah Al-Maqrunah bi Al-Adillah Asy-Syar’iyyah, terdapat penjelasan berapa takaran air yang dibutuhkan ketika berwudhu. Di situ diterangkan bahwa takaran air dalam berwudhu adalah satu mud (Satu mud sama dengan 1 1/3 liter – 2 liter). Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas, katanya, “Adalah Rasulullah ketika berwudhu dengan (takaran air sebanyak) satu mud dan mandi (dengan takaran sebanyak) satu sha’ sampai lima mud.” ) H.R. Muttafaq alaih. Tapi dalam prakteknya, banyak sekali umat muslim di Indonesia yang mengaku beragama Islam terbanyak di dunia, tidak mengikuti sunnah Rasulullaah Shalallaahu alaihi wassalam tersebut. Ketika mengantri wudhu di mesjid, sering saya lihat orang mengucurkan air dari keran dengan kucuran yang besar sekali. Seolah-olah lupa atau mungkin tidak tahu bahwa berlebih-lebihan atau boros itu adalah perilaku yang disukai syaitan. Pernah dalam perjalanan, saya mampir di suatu mesjid untuk melaksanakan shalat. Ketika berwudhu saya lihat orang di sebelah saya mengucurkan air dengan deras sekali, dan saya yakin air yang terpakai itu lebih dari satu mud. Setelah selesai wudhu, dan bersiap untuk shalat, ternyata saya baru tahu orang yang di sebelah saya tadi itu ialah Sang Imam masjid tersebut, Astagfirullah…saya sedikit kecewa, seorang imam yang diharapkan bisa menjadi contoh teladan untuk makmumnya ternyata masih melakukan perbuatan yang disukai syaitan.

Mungkin sebagian dari kita akan berkata, “Ah persoalan itu kan hanya sepele saja.” Tetapi seperti telah disebutkan di atas, bahwa perbuatan yang berlebih-lebihan atau boros itu sangat disukai syaitan. Bayangkan ketika akan melakukan ibadah saja kita memulainya dengan perbuatan yang disukai syaitan. Syaitan pasti akan dengan senang hati terus mengikuti kita sepanjang shalat dan menggoda kita sepanjang shalat sehingga shalat kita menjadi tidak khusyu dsb. Dan juga justru syaitan senang memanfaatkan hal-hal kecil dan sepele untuk menjerumuskan kita.

Di luar masalah agama juga, hemat air merupakan salah satu anjuran dalam rangka menjaga sumber daya alam. Air tanah pada zaman ini sudah mulai jauh berkurang, dikarenakan juga musim kemarau yang panjang, ataupun hilangnya daerah-daerah resapan air. Jadi berhemat dalam penggunaan air itu memang sangat diperlukan. Lagipula tidak ada salahnya juga kan kita berhemat dalam menggunakan air untuk berwudhu?