Masih Harus Sabar Dulu…

Ditulis Februari 16, 2009 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized

Tadi pagi begitu keluar dari kamar mandi, istri saya hanya diam saja, sambil wajahnya sedih. Setelah saya tanya, ternyata dia melakukan test kehamilan dengan menggunakan test pack lagi, dan ternyata hasilnya negatif.

Innaalillaahi Wa Inna ilaihi raajiuun…Mungkin ALLAH masih meminta kami untuk sabar. Kami memang memiliki banyak rencana, akan tetapi ALLAH pun pasti memiliki rencana untuk kami, dan yang pasti rencana ALLAH itulah yang terbaik, Insya ALLAH…

Inilah Holocaust Sesungguhnya, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Ditulis Januari 11, 2009 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized

Holocaust, dongeng isapan jempol yang selama ini selalu didengung-dengungkan oleh Zionis Israel Laknatullah ternyata benar-benar terjadi. Dongeng yang mneceritakan adanya pembantaian bangsa Yahudi selama Perang Dunia II itu sengaja didengung-dengungkan kaum Zionis Israel untuk mendapatkan simpati dunia dan terutama sebagai legitimasi mereka untuk mencaplok wilayah Palestina. Akan tetapi pada kenyataannya, pembantaian itu bukan menimpa bangsa Yahudi seperti yang selama ini didongengkan oleh mereka, tetapi justru menimpa kaum muslim di Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Dan pembantaian itu sedang terjadi saat ini juga!! Pelakunya? Kaum Zionis Israel yang tak lain adalah bangsa Yahudi itu sendiri!!

Seperti biasa, menjelang pemilu di Israel, nyawa dan darah-darah bangsa Palestina seolah menjadi murah. Hanya untuk alasan yang remeh, Israel membombardir warga dengan jet tempur dan tank-tank darat. Alih-alih menghancurkan gerakan HAMAS, Israel justru melakukan pembantaian massal dengan membunuhi anak-anak dan para wanita. Ini apa bedanya dengan holocaust yang selama ini selalu didongengkan oleh mereka? Malah lebih parah, holocaust yang didongengkan oleh mereka sebenarnya tidak pernah terjadi, sedangkan pembantaian bangsa Palestina saat ini benar-benar terjadi hari ini, detik ini juga. Saat ini warga Jalur Gaza hidup dalam ketakutan, setelah hampir dua tahun lamanya mereka diblokade oleh Israel, tidak mendapat bantuan pangan, obat dan sarana lainnya. Kini mereka harus bertahan menghadapi serangan demi serangan militer yang terus dilancarkan oleh Israel. Para pejuang Palestina yang merupakan pejuang dari HAMAS harus bertahan bertempur dengan persenjataan seadanya, melawan Zionis Israel yang memiliki persenjataan lengkap yang tentu saja diperoleh dari bantuan setan Amerika Serikat. Akan tetapi surutkah semangat para pejuang Palestina tersebut? Tidak!! Semangat perjuangan mereka justru semakin kuat, semangat jihad mereka semakin tebal untuk melawan kedzhaliman.

Kita sebagai sesama muslim hanya bisa menonton saja, hanya bisa menghitung jumlah korban yang jatuh setiap hari, menghitung berapa banyak bayi, anak-anak dan wanita yang harus meregang nyawa akibat serangan militer yang dilakukan oleh Israel. Dari hadist riwayat  Mughirah rhadialaahu ‘anhu., ia berkata:Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Suatu kaum dari umatku akan senantiasa saling membantu membela manusia hingga datang hari kiamat sedang mereka tetap saling membantu (Shohih Muslim).

Jangan sampai kita sebagai bangsa Indonesia yang katanya berpenduduk muslim terbanyak di dunia, yang otomatis juga harusnya sebagai saudara muslim terbanyak bagi warga Jalur Gaza Palestina, malah sibuk dengan urusan duniawi. Di berita televisi disiarkan, kita muslim Indonesia sibuk mempersiapkan pesta tahun baru masehi yang meriah. Kita lebih memilih menghambur-hamburkan uang untuk pesta tahun baru dibandingkan dengan menyalurkan infaq untuk membantu saudara-saudara kita di Jalur Gaza yang jelas-jelas sangat membutuhkan bantuan kita. Saat ini banyak organisasi-organisasi yang berusaha mengumpulkan infaq untuk kemudian disalurkan kepada warga Palestina. Salah satunya adalah KISPA (Komite Indonesia Untuk Solidaritas Palestina). Jikalau pun kita tak mampu untuk menyalurkan infaq, berikanlah doa di tiap-tiap shalat kita untuk saudara-saudara kita di sana. Janganlah lupakan mereka, janganlah biarkan mereka sendiri menghadapi kekejaman Israel. Mereka adalah saudara-saudara kita senasab, saudara kita dalam Islam, saudara kita yang sedang berjuang mempertahankan tanah airnya, kehormatan agama Islam serta menjaga kesucian Masjid Al Aqsha, kiblat pertama umat muslim dari kehancuran yang sedang dilakukan Zionis Israel. Para Zionis Israel sedang berusaha untuk menghancurkan Masjid Al Aqsha untuk dijadikan kuil sinagog. Apakah kita masih diam saja melihat semua ini? Iringilah perjuangan mereka dalam lantunan doa kita, sisihkanlah sebgaian rizki kita untuk mereka, mereka adalah bagian dari kita, dan kita adalah bagian dari mereka, kita adalah satu.

Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta kasih dan belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing), maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam. (HR. Muslim).

Allaahummanshur ikhwana al mujahidiina fii Filistin (Ya ALLAH, tolonglah saudara kami para mujahidin di Palestina), amin….

Cara Pandang

Ditulis Desember 2, 2008 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized

Pulang kerja kemarin saya mengeluh kepada istri, “Tadi pulang naik kereta listrik express, tadinya sih biar bisa cepat sampai Bogor. Tapi ternyata keretanya malah lambat, dan waktu perjalanan jadi sama juga seperti kalau naik kereta ekonomi.”

Istri saya hanya tersenyum sambil berkata, “Ya udah, yang penting kan Mas selamat sampai di rumah. Biar terlambat yang penting selamat kan? Kita bersyukur aja.”

Saya langsung diam, benar juga ya? Saya tidak berpikir kesitu. Kita selama ini selalu mengeluh, marah dan jengkel jika kita terjebak dalam kemacetan, atau jika jadwal perjalanan kita terlambat. Akan tetapi sadarkah kita, selama dalam perjalanan itu kita masih bisa selamat sampai tujuan. Setelah mengeluh dan kesal sepanjang perjalanan, sudahkah kita bersyukur bahwa kita pada akhirnya telah selamat sampai di rumah?

Insya ALLAH mulai saat ini saya mencoba merubah cara pandang saya, walau waktu kita banyak terbuang dengan kemacetan dan jadwal perjalanan yang terlambat, tapi bukankah kita bisa mengisi waktu yang terbuang itu dengan berdzikir mengingat ALLAH? Insya ALLAH dengan berdzikir hati menjadi tenang dan kita mendapat pahala, Amin.

Jakarta, 2 Desember 2008

10 Things…

Ditulis Desember 1, 2008 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized

Kita mengakui beriman kepada ALLAH SUbhanaahu Wa Ta’ala

Akan tetapi sudahkah kita beribadah kepada-NYA?

Kita mengaku mencintai Rasulullaahi Shalallaahu Alaihi Wassalam

Akan tetapi sudahkah kita mengikuti Sunnahnya?

Kita mengaku sering mambaca Al Quran dan khatam berkali-kali

Akan tetapi sudahkah kita mengamalkannya?

Kita mendapat banyak kenikmatan dari ALLAH dalam kehidupan ini

Akan tetapi sudahkah kita bersyukur dan memuji-NYA?

Kita mengaku bukan pengikut syaitan dan syaitan adalah musuh kita

Akan tetapi sudah berhentikah kita melakukan segala kemaksiatan yang diajarkannya?

Kita sangat menginginkan surga

Akan tetapi sudahkah kita beramal untuk menggapainya?

Kita tidak ingin masuk neraka

Akan tetapi sudahkah kita berlari menjauhinya?

Kita tahu bahwa kita akan mati suatu hari nanti

Akan tetapi sudahkah kita bersiap diri menyambut kedatangannya?

Kita senang membincangkan aib orang lain

Akan tetapi sudahkah kita memperbaiki aib kita sendiri?

Kita sering mengantarkan jenazah ke dalam kuburnya

Akan tetapi sudahkah kita mengambil pelajaran darinya?

Cibinong, 28 November 2008….(Horee gajian…:^_^)

Time is Running Out

Ditulis Desember 1, 2008 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized

Gema adzan Subuh kita masih lelap tertidur

Gema adzan Zuhur kita sibuk mencari tempat makan yang enak untuk ngobrol

Gema adzan Ashar kita sibuk mengerjakan pekerjaan kantor

Gema adzan Magrib kita di perjalanan pulang dari kantor

Gema adzan Isya kita sudah terlalu lelah untuk menghadap-NYA

Jadi kapan ibadahnya?

Mungkin sebagian orang akan menjawab, “Ya mau gimana? Waktunya habis terus, jadi ga sempet deh. Lagipula kerja juga kan ibadah.”

Begitulah alur kehidupan kita saat ini. Dari pagi sampai sore kita sibuk bekerja mencari rizki. Kemudian pulang ke rumah setelah matahari terbenam atau mungkin juga setelah larut malam karena harus lembur. Kita bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan kita di dunia, akan tetapi kita lupa bahwa bahwa kita juga harus mencari bekal amal ibadah sebanyak-banyaknya untuk timbangan amal kita di hari perhitungan nanti.

Berikut ada cerita menarik yang saya terima lewat email dari seorang rekan.

Ketika Pak Heru, atasan saya, memerintahkan untuk  mencari klien yang bergerak di bidang interior, seketika pikiran saya sampai kepada Pak Azis.
Meskipun  hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak Azis mampu  membuat kios
internet, dalam bentuk serupa dengan  anjungan tunai mandiri dan dari kayu pula, dengan  segera saya menuju ke bengkel workshop Pak Azis.

Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya  saya menemukan bengkel Pak Azis, yang kini ternyata sudah didampingi sebuah masjid.

Pak Azis pun tampak awet muda, sama  seperti dulu, hanya pakaiannya yang  sedikit berubah.

Kali ini dia selalu memakai kopiah  putih. Rautnya cerah, fresh, memancarkan kesan tenang  dan lebih santai.

Beungeut wudhu-an ( wajah sering wudhu), kata orang sunda. ..selalu bercahaya..

Hidayah Allah ternyata telah sampai sejak lama, jauh  sebelum Pak Azis berkecimpung dalam berbagai dinamika  kegiatan Islam.

Hidayah itu bermula dari peristiwa  angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu seluruh  atap bengkel workshop-nya, pada suatu malam kira-kira lima tahun silam.

“Atap rumah saya tertiup angin sampai tak tersisa satupun. Terbuka semua.” cerita Pak Azis.

“Padahal  nggak ada hujan, nggak ada tanda-tanda bakal ada angin  besar. Angin berpusar itupun cuma sebentar saja.”

Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu.. Walau  uang dan pekerjaan masih terus mengalir kepadanya, Pak  Azis tetap merasa gelisah, stres & selalu tidak  tenang. “Seperti orang patah hati, Ndra. Makan tidak  enak, tidur juga susah.”cerita Pak Azis lagi.

Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal di  rumah dan stres.

Padahal, sebelum kejadian angin  puting-beliung yang anehnya hanya mengenai bengkel  workshop merangkap rumahnya saja,

Pak Azis merasa  hidupnya sudah sempurna. Dari desainer grafis hingga jadi arsitek.

Dengan keserbabisaannya itu, pak  Azis merasa puas dan bangga, karena punya penghasilan tinggi.

Tapi setelah peristiwa angin puting-beliung itu, pak Azis kembali bangkrut, beliau bertanya dalam hati :

“apa sih yang kurang” apa salahku ” ?

Akhirnya pak Azis menekuni ibadah secara mendalam “Seperti musafir atau walisongo, saya mendatangi masjid-masjid di malam hari.

Semua masjid  besar dan beberapa masjid di pelosok Bandung ini,  sudah pernah saya inapi.”
Setahun lebih cara tersebut  ia jalani, sampai kemudian akhirnya saya bisa
tidur normal, bisa menikmati pekerjaan dan keseharian  seperti sediakala.

“Bahkan lebih tenang dan santai daripada sebelumnya.”
“Lebih tenang ? Memang Pak Azis dapet hikmah apa dari  tidur di masjid itu ?”

“Di masjid itu ‘ kan tidak sekedar tidur, Ndra. Kalau  ada shalat malam, kita dibangunkan, lalu pergi wudhu dan tahajjud.

Karena terbiasa, tahajjud juga jadi  terasa enak. ….Malah nggak enak kalau tidak shalat  malam, dan shalat-shalat wajib yang lima itu jadi  kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Ndra.”

“Sekarang tidak pernah terlambat atau bolong  shalat-nya, Pak Azis ?”

“Alhamdulillah. Sekarang ini saya menganggap bhw yg utama  itu adalah shalat.

Jadi, saya dan temen-temen menganggap kerja  itu cuma sekedar selingan aja.”

“Selingan ?”

“Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu kewajiban shalat, Ndra.”

Untuk beberapa lama saya terdiam, sampai kemudian  adzan ashar mengalun jelas dari masjid samping rumah  Pak Azis.

Pak Azis mengajak saya untuk segera pergi  mengambil air wudhu, dan saya lihat para pekerjanyapun  sudah pada pergi ke samping rumah, menuju masjid.   Bengkel workshop itu menjadi lengang seketika.

Sambil  memandang seluruh ruangan bengkel, sambil berjalan menuju masjid di samping workshop, terus terngiang-ngiang di benak saya : “Kerja itu cuma  selingan, Ndra. Untuk menunggu waktu shalat…”

Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang  sibuknya lalu lintas di jalan raya, saya merenungi apa  yang tadi dikatakan oleh Pak Azis.

Sungguh trenyuh  saya, bahwa setelah perenungan itu, saya merasa  sebagai orang yang sering berlaku sebaliknya.

Ya, saya  lebih sering menganggap shalat sebagai waktu rehat,  cuma selingan, malah saya cenderung lebih  mementingkan pekerjaan kantor.

Padahal sholat yang akan bantu kita nantinya…( sungguh saya orang yang merugi..)

Kadang-kadang waktu shalat  dilalaikan sebab pekerjaan belum selesai, atau rapat dengan klien dirasakan tanggung untuk diakhiri.
Itulah penyebab dari kegersangan hidup saya selama  ini. Saya lebih semangat
dan habis-habisan berjuang  meraih dunia, daripada mempersiapkan bekal terbaik  untuk kehidupan kekal di akhirat nanti. Padahal dunia ini akan saya tinggalkan.. juga ……….kenapa saya begitu bodoh..
Saya lupa,  bahwa shalat adalah yang utama.

Waktu merupakan hal yang sangat penting dan harus mendapatkan perhatian yang penuh oleh kita. Sebab, karena waktu seseorang bisa memperoleh surga dan karena waktu juga seseorang memperoleh neraka.

“Demi waktu. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan beramal sholeh yang saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS: Al-‘Ashr 1-3).

Cibinong, 28 November 2008



Sudah rapatkah shaf kita?

Ditulis November 26, 2008 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Ketika kita sedang akan memulai shalat berjamaah, pernahkah kita perhatikan imam selalu menyuruh para makmum untuk merapikan dan merapatkan barisan? “Rapat dan luruskan shaf, sesungguhnya rapat dan lurusnya shaf termasuk ke dalam kesempurnaan shalat.” Perintah tersebut merupakan sabda dari Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Anas radhiallahu ’anhu. Selain itu ada pula hadits lain yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma, Rosululloh shulallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Rapikanlah shof, sejajarkan antara bahu, penuhi yang masih kosong(masih longgar), bersikap lunaklah terhadap saudara kalian dan janganlah kalian biarkan kelonggaran untuk setan. Barang siapa yang menyambung shof, Alloh akan menyambungnya dan barang siapa yang memutus shof Alloh akan memutusnya.” (HR. Abu Dawud no. 666). Dalam beberapa riwayat juga diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khatab sangat memberikan perhatian sekali pada masalah rapat dan lurusnya shaf ketika shalat berjamaah.

Akan tetapi pada kenyataannya merapikan dan meluruskan shaf itu sangat susah sekali. Entah itu hanya di Indonesia saja yang ngakunya berpenduduk muslim terbanyak di dunia, ataukah memang di negara lain pun demikian saya tidak tahu. Yang jelas setiap kali melakukan shalat berjamaah di mesjid saya melihat banyak sekali jamaah yang tidak merapatkan shafnya satu sama lain. Begitu juga ketika saya merapatkan shaf dengan cara menempelkan ujung jari kaki ke jamaah sebelah kanan kiri saya, biasanya mereka langsung menjauhkan kakinya agar tidak menempel dengan jari kaki saya. Begitu saya tempelkan lagi, pasti langsung dijauhkan lagi.

Padahal seperti disebutkan pada hadits di atas, bahwa kelonggaran shaf kita akan diisi oleh setan. Maka tak heran dengan longgarnya shaf kita ketika shalat, setan akan mengisi kelonggaran itu, kemudian sepanjang shalat makhluk terkutuk itu akan menggoda kekhusyukan kita ketika shalat. Sehingga pada akhirnya shalat yang kita lakukan tidak dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.

Berikut ada sebuah cerita menarik bagaimana iblis menyusup kedalam shaf shalat berjamaah.

Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid.

Kebetulan hari itu Jum’at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia

tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan

bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat

lubang pembuangan air.

Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam

urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga

menempel di setiap sajadah.

“Hai, Blis!”, panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu.

Iblis merasa terusik : “Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang

saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!”, jawab Iblis

ketus.

“Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci, kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar

nanti!”, Kiai mencoba mengusir.

“Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru”. Kiai tercenung.

“Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu”.

“Dengan apa?”

“Dengan sajadah!”

“Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?”

“Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan

saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh

untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!”

“Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?”

“Bukan itu saja Kiai…”

“Lalu?”

“Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan

gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar”

“Untuk apa?”

“Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang

Kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat.

Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam

kerenganggan itu. Di situ saya bisa ikut membentangkan sajadah”.

Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus.

Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan.

Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih

kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya,

tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak

enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa

berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga

sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya.

Keduanya masih melakukan sholat sunnah.

“Nah, lihat itu Kiai!”, Iblis memulai dialog lagi.

“Yang mana?”

“Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda

ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka”. Iblis lenyap. Ia sudah

masuk ke dalam barisan shaf. Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang

melakukan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis

sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun

dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas

sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia

kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa.

Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar.

Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadiankejadian

itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di

atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan

atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya

diatas sajadah yang kecil.

Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas. Pemilik sajadah lebar,

diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari

pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan

selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.

Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.

“Astaghfirullahal adziiiim “, ujar sang Kiai pelan.

Maka tidak heran pula jika pada akhirnya umat muslim khususnya di Indonesia tidak dapat bersatu merapatkan barisan. Umat muslim sekarang dengan mudah dapat diadu domba, sesama umat muslim saling menjatuhkan. Bagaimana dapat merapatkan barisan, jika shalat saja kita tidak pernah mau merapatkan shaf kita? Kita lebih senang jika ketika shalat di sebelah kita diisi oleh setan dibandingkan oleh saudara kita sesama muslim.

My Beloved Wife

Ditulis Oktober 21, 2008 oleh thez al fajr
Kategori: Uncategorized

Saya adalah orang yang sedikit susah untuk berubah. Ada beberapa hal yang terkait dengan kebiasaan saya yang susah berubah sampai sekarang. Pernah hal ini bikin jengkel istri saya yang harus mengingatkan saya bahwa sekarang ini saya sudah mempunyai seorang istri.  Tapi jangan suudzon dulu,  bukan berarti saya lupa bahwa saya sudah punya istri. Yang bikin jengkel istri saya ialah kebiasaan saya yang selalu berusaha mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Misalkan saja kalau pagi, saya sudah biasa menyiapkan sarapan sendiri. Entah itu goreng telur, nasi goreng, roti bakar, dsb. Begitu juga kalau hari libur, saya biasanya sering bikin makanan kecil sendiri, yang simpel – simpel aja seperti martabak mie or makaroni panggang. Kemudian juga kalau ada kancing baju yang copot misalnya, saya selalu berusaha memperbaikinya sendiri.

Kalau sudah begitu, biasanya istri langsung ngomel, “Mas kenapa sih ga nyuruh istri aja buat siapin sarapan or kalau pengen makan apa gitu. Kan bisa saya bikinin”. Ternyata setelah berterus terang, dia merasa tidak dibutuhkan oleh saya kalau saya menyiapkan kebutuhan saya sendiri. Saya cuma bilang bahwa saya cuma tidak mau merepotkan orang lain untuk menyiapkan kebutuhan saya. Tapi jawaban dia hanya simpel aja, “Tapi saya kan istri Mas, biarin itu semua menjadi ibadah dan pahala buat saya”. Subhanallah, kalimat itu langsung kena dalam hati saya.  Benar juga, kalau begitu secara tidak langsung saya sudah menghalangi ibadah dan pahala untuk istri saya dalam hal melayani suami.

Alhamdulillah mungkin saya termasuk beruntung bisa memiliki seorang istri yang tahu hak-hak serta kewajibannya dalam keluarga. Walau dia bekerja juga di luar rumah (istri saya adalah seorang dosen di salah satu Akademi Bidan di Bogor), tetapi dia tidak melupakan kewajibannya dalam mengurus keluarga. Kalau saya pulang kerja, dia sudah siap dengan minuman dan makanan kecil untuk saya. Handuk untuk mandi dan baju ganti pun sudah disiapkan.

Sekarang saya harus bisa membiasakan diri saya dilayani oleh istri saya, tetapi tentu saja bukan berarti saya jadi keenakan, kadang masih ada juga rasa risih dan kagok dari yang biasanya saya melayani semua sendiri, sekarang menjadi dilayani oleh istri. Tapi mudah-mudahan ini smeua bisa menjadi ibadah dan pahala buat istri saya.